Air, Udara, Api, Tanahnya
Tidak banyak orang bisa menikmati hal-hal kecil di sekitarnya.
Fe beruntung, ia bisa.
Bahkan, saat menapaki tangga kayu apartemennya.
Sovie menggelengkan kepala dan merapikan rambutnya.
“Aku belum segila kau.
Jarak apartemenmu sampai kantor ini hampir lebih dari delapan kilometer! Bisa-bisanya tiap pagi kau menyusuri jalan sejauh itu.
”
Dena, sekretaris Bu Nana menghampiri mereka.
“Kalian berdua harus hadir rapat di ruangan Bu Nana lima belas menit lagi,” katanya, setengah memerintah, sementara matanya seolah memandang mereka berdua dengan pandangan seorang guru yang baru saja memergoki murid-muridnya menyontek.
Kemudian, ia membalikkan tubuhnya sambil menyibakkan rambutnya yang panjang.
Roknya pagi ini benar-benar mini dan hanya berhasil menutupi setengah pahanya yang panjang.
Sovie menggerutu panjang pendek.
Bukan karena rapat yang harus dihadiri pagi itu, tapi lebih kepada tingkah Dena yang menyebalkan.
Fe menarik napas lega.
Lega karena menemukan kantornya tak berubah.
Masih seperti air yang mengalir.
Suara teman-temannya yang mengobrol, entah tentang pekerjaan atau di luar pekerjaan.
Gurauan-gurauan antar rekan yang menyenangkan.
Pertengkaran kecil yang hangat.
Tingkah teman-temannya yang kadang-kadang konyol.
Fe meletakkan tasnya di bawah meja kerjanya dan menggumamkan syukur karena masih diberi kesempatan sekali lagi untuk bekerja dan menikmati aliran airnya.
Hanya beberapa detik.
Lantas, ia mulai mengeluarkan catatan-catatan untuk rapat pagi itu.
Ia sudah siap dengan apa yang ingin ditulisnya pada edisi bulan ini.
Matanya menelusuri apa yang sudah ditulisnya dengan rapi pada catatannya.
Ia mengerutkan kening.
Dua hari lalu, ia menuangkan rencana dan ide dalam pikirannya di atas kertas yang ia baca sekarang.
Tapi, saat ini, ia merasa ragu-ragu untuk melahirkan benih-benih ide tersebut.
Entah mengapa.
Tinggal lima menit lagi sebelum rapat.
Aliran airnya kembali bergejolak.
Ada sedikit rasa panik melanda sekujur tubuhnya.
Ia berusaha keras menghilangkan dorongan kuat yang ada dalam dirinya untuk membatalkan ide yang sudah ia persiapkan, tapi perasaan ragu-ragu itu malah semakin menancap dalam hatinya.
“Fe!”
Setengah terkejut karena namanya dipanggil sekeras itu, ia mendongak dan menemukan wajah Sovie dan Odie di hadapannya.
Sovie dengan matanya yang melotot kesal karena baru pada panggilan kelima ia berhasil mengeluarkan Fe dari lamunannya.
Fe menggeleng-gelengkan kepala.
Tidak mungkin.
Rencana yang ia buat ini tidak mungkin ia ganti secepat membalikkan telapak tangan.
“Kita sudah ditunggu Bu Nana,” ucap Odie.
“Kau sudah siap dengan apa yang ingin kau tulis ’kan?”
Fe menghela napas panjang, lalu mengangguk ragu.
Airnya masih bergejolak.
Kadang perlahan, kadang cepat.
Kali ini, Fe benar-benar berusaha keras menghentikan mereka menghalangi alirannya.
Ia tidak mau terlalu banyak riak pada hari itu.
Mereka bertiga memasuki ruangan Bu Nana.
Ruangan Bu Nana ini didisain bukan untuk ruang kerja pribadi.
Ruangan ini dirancang untuk sebuah relaksasi kerja.
Dibuat senyaman mungkin, tapi tetap tampak profesional.
Di dalamnya sudah banyak suara tawa dan obrolan, seakan-akan mereka datang untuk arisan, sekadar berkumpul, dan bukannya rapat serius tiap awal bulan.
Mereka mengelilingi meja kaca yang hanya setinggi tidak lebih dari mata lutut.
Di atas meja terdapat penganan-penganan kecil.
Sebagian duduk di sofa yang tersedia, beberapa duduk di kursi-kursi kecil dan yang lainnya duduk di atas karpet yang digelar.
Bu Nana memang tidak pernah menggelar rapat yang terlalu formal.
Bukan berarti rapat yang digelar Bu Nana tidak pernah serius.
Hanya, Bu Nana cenderung membiarkan anak buahnya bekerja dengan sistem kenyamanan.
Hasilnya, memuaskan.
Fe duduk di sofa di sebelah Melisa, penulis kolom gosip di majalah mereka, sedangkan Sovie dan Odie lebih memilih duduk di karpet.
Pintu ruangan Bu Nana terbuka.
Wanita setengah baya yang masih enerjik dan terlihat cantik itu masuk, sambil bersiul-siul.
Siulan yang sama setiap awal rapat.
Tapi, entah bagaimana, siulannya selalu berhasil menghentikan dengung ramai teman-teman Fe.
Bu Nana memandang anak-anak buahnya dengan matanya yang tajam.
Memerhatikan satu per satu tiap mimik di hadapannya.
“Pagi, teman-teman! Oke, siapa yang akan mulai?”
Kirby mengacungkan jari.
Bu Nana mengangguk, tanda bahwa gadis itu sudah diperbolehkan untuk bicara.
Sekilas Kirbya mengungkapkan idenya untuk berkampanye tentang sarapan sehat.
Bu Nana kembali mengangguk.
”Baik, saya ingin referensinya paling lambat besok pagi.
Ada lagi? Fe?”
Fe mendongak dan matanya menatap Bu Nana yang memandangnya dengan pandang menyelidik.
Seluruh pasang mata yang ada di ruangan itu kini menatapnya dengan sedemikian rupa sehingga ia merasa harus berbicara.
“Alienation,” katanya, pasti.
Kata itu sama sekali tidak ada dalam catatannya.
Hanya ada dalam pikirannya.
“Tidak terlalu berat?” tanya Bu Nana.
Ia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa Fe bersungguh-sungguh dengan yang diucapkannya.
Fe menggeleng tegas.
“Satu dari sepuluh wanita mengalami penyakit kejiwaan ini.
Penyakit ini memang jarang menyerang seseorang, tapi sekali menyerang, akibatnya bisa sangat fatal, termasuk menyakiti diri sendiri secara fisik, yang berakhir dengan bunuh diri.
Penyakit ini muncul karena hilangnya rasa penerimaan terhadap seseorang.
Penyakit ini banyak diderita wanita karena pada umumnya, ketika wanita kehilangan persahabatan dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, ia akan merasa dirinya tidak cukup berharga untuk dicintai.
Bu Nana menelengkan kepalanya.
“Oke, kuberi waktu tiga hari.
”
Alienation.
Salah satu penyakit jiwa yang dapat berakibat fatal hanya dengan dua stadium.
Stadium pertama terjadi jika seseorang mulai merasa bahwa ia merasa terasing.
Merasa sebagai alien, makhluk luar angkasa di tengah manusia yang ia kenal.
Merasa bahwa manusia-manusia yang disebut masyarakat menolaknya sebagai bagian dari mereka karena suatu sebab yang biasanya tidak ia mengerti.
Perasaan yang muncul karena masyarakat memandangnya, menatapnya dan bersikap sinis seakan-akan ia makhluk aneh yang harus dihindari.
Tanpa mereka sadari sikap seperti itu dapat membunuh jiwa seseorang.
Seseorang yang ada di stadium ini biasanya mengalami depresi dan stres yang terus-menerus menghantuinya.
Jika tidak segera ditangani, akan berbahaya.
Stadium kedua lebih menyerang kepada diri orang itu sendiri.
Stadium ini mulai hinggap pada si penderita ketika ia menyerah pada keadaan, dan setuju dengan pendapat masyarakat bahwa dirinya memang makhluk aneh yang harus dihindari dan tidak cukup layak untuk diterima dan dicintai dalam lingkungannya.
Dan, karena ia sendiri menganggapnya demikan, hidup dapat merupakan momok yang menakutkan dan sesuatu yang tidak berguna.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari dunia yang tidak menerimanya sebagai suatu pribadi yang utuh dan layak untuk dicintai.
Fe menarik napasnya.
Jessie Monika Pemenang Harapan Sayembara Mengarang Cerber femina 2005
|
| |
| |
|